Bersahabat, Kita Ke Surga

Bersahabat, Kita Ke Surga

Seorang sahabat yang baik pasti akan merasa nyaman ketika bersama dan bersedih ketika harus berpisah.

Suatu hari, seorang lelaki tampak termenung di sebuah pemakaman umum. Di hadapannya terpapar gundukan tanah merah bertabur  bunga yang mulai mengering. Lelaki tersebut terlihat memegang nisan sambil berdoa. Sesekali lelaki tersebut menyeka kedua matanya. Rupanya,  seseorang yang terbaring  di bawah gundukan tanah itu adalah sahabat lelaki tersebut.

Sangat wajar ketika seseorang bersedih dan merasa begitu kehilangan ketika sahabatnya pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Seorang sahabat yang baik pasti akan merasa nyaman ketika bersama dan bersedih ketika harus berpisah. Moment kebersamaan yang begitu kental akan tetap terkenang walau sudah berbeda alam.

Menurut islam, sahabat yang baik senantiasa membantu temannya untuk tetap menjaga iman dan ketaatannya kepada Allah SWT. Ia juga akan melarangnya melakukan dosa-dosa besar, membantu mempertebal keimanannya, bahkan dengan persahabatannya itu, ia akan memasuki surga sampai pada tingkat surga yang paling tinggi.

Bersahabat dalam Ketaatan

Hendaknya kita bersahabat dalam ketaatan. Pilihlah orang yang kuat agamanya, sementara orang yang gemar melakukan kemaksiatan, kita mesti menjauhinya, dan bagi orang yang lupa (dan terjerembap dalam kubangan dosa), kita tidak boleh memutus persahabatan dengannya, tapi kita mesti mendekatinya dan memberi peringatan kepadanya atas kelalaiannya.

Hendaknya kita melihat teman yang selalu bersama kita, karena ia akan selalu mengikuti perjalanan kita. Dan ketahuilah bahwa seseorang itu akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya. Untuk itu, dapat pula dikatakan bahwa mencari sahabat sama halnya dengan mencari surga ataupun neraka.

Imam Al-Ghazaali membagi tiga jenis sikap manusia dalam memberikan pengorbanan terhadap orang lain. Pertama, memposisikan teman sebagaimana hamba sahaya atau budak. Maksudnya,  selalu memenuhi kebutuhannya meskipun tanpa diminta. Kedua, memposisikannya seperti diri sendiri. Sehingga apa yang dimilki rela untuk digunakan bersama. Ketiga, tingkatan tertinggi dalam pengorbanan. Yaitu selalu mengutamakan kepentingannya dari pada kepentingan sendiri.

Indahnya persahabatan antar orang mukmin sehingga bisa menumbuhkan rasa persaudaraan yang kokoh dapat kita baca pada kisah sahabat Muhajirin dan Anshor. Terutama kisah antara Sa’ad bin Rabi’ dengan Abdurrahman bin ‘Auf.  “Saudaraku, aku adalah penduduk Madinah yang kaya raya,” ucap Sa’ad kepada Abdurrahman untuk membantu meringankan Abdurrahman. “Silahkan pilih separuh hartaku dan ambillah.”

Bahkan Sa’ad bin Rabi’ menambah penawarannya, “Akupun mempunyai dua orang istri, coba perhatikan yang lebih menarik perhatianmu, akan kuceraikan ia hingga engkau dapat memperistrinya”.

Dari kisah di atas, kita bisa membaca betapa kuatnya ikatan persahabatan dan rasa persaudaraan antar sahabat Anshar dan Muhajirin. Sebuah ikatan yang dilandasi ketulusan dan keikhlasan. Ikatan yang betul-betul karena untuk meraih ridha Allah SWT. Bukan karena untuk maksud tertentu.

Seorang sahabat yang baik senantiasa merasakan apa yang sahabatnya rasakan baik itu bahagia maupun bersedih. Turut gembira saat sahabatnya mendapat kebahagiaan dan ikut bersedih saat sahabatnya mendapat kepahitan. Bukan sebaliknya. Rasulullah saw bersabda:

“Perumpamaan persaudaraan kaum muslimin dalam cinta dan kasih sayang di antara mereka adalah seumpama satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh sakit maka mengakibatkan seluruh tubuh menjadi demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)

Tidak semua orang dapat dijadikan sahabat dan tidak mudah untuk mendapatkan sahabat yang benar-benar membawa kita kepada kebaikan. Kekeliruan dalam memilih seorang sahabat bias jadi berbahaya dan malah menjerumuskan kita ke neraka.

Dalam kitab al-Hikam ada menyebut, “Jangan berkawan dengan seseorang yang tidak membangkitkan semangat taat kepada Allah, amal kelakuannya dan tidak memimpin engkau ke jalan Allah.” Dalam satu hadis yang bermaksud, “Seseorang akan mengikuti pendirian (kelakuan) temannya, kerana itu tiap orang harus memilih siapakah yang harus didekati sebagai kawan (teman).”

Sumber: http://www.daaruttauhiid.org/artikel/read/global/240/bersahabat-kita-ke-surga.html